Kalo kita mepelajari cinta dari membaca buku-buku Khalil Gibran, yang akan kita dapatkan adalah pengetahuan tentang cinta serta liku-liku yang panjang tidak habis-habisnya.
Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku-liku, cinta itu sebuah fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula-gula.
Cinta itu... kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya, Anda akan menjadi cinta itu sendiri. Anda akan menceritakan diri Anda yang kasmaran dengan lancar. Cinta itu bercerita dengan bahasa tanpa huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga, dengan rumah, dengan bahasa apa saja. Yang penting orang tahu itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Cinta, bahasa tanpa huruf atau suara
Jumat, 23 Agustus 2013
WIN
Let me tell you something you already know. The world ain't all sunshine and rainbows. It's a very mean and nasty place and I don't care how tough you are it will beat you to your knees and keep you there permanently if you let it. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain't about how hard ya hit. It's about how hard you can get it and keep moving forward. How much you can take and keep moving forward. That's how winning is done! Now if you know what you're worth then go out and get what you're worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain't where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain't you! You're better than that!
Minggu, 04 Agustus 2013
Ayahku
Ah, ayahku. Dia orang yang luar biasa. Aku kagum padanya. Tentu saja, seperti jutaan anakn lainnya. Tapi, aku bukan orang yang fanatis, aku rasa dia juga begitu. Terkadang kami saling berselisih pendapat dan aku jarang sekali memenangkan argumenku. Aku belajar banyak soal keras kepala-darinya.
Dia orang yang sangat sering memberiku kultum,yang tidak ahanya tujuh menit tentu saja. Ketika aku terlambat sholat berjama'ah, ketika aku lebih keras abernyanyi daripada membca al-qur'an, ketika barang-barangku berserakan tidak tertata, ketika aku berangkat ke sekolah dengan terburu-buru (hal yang juga kupelajari darinya). Serta hal lain, yang tak jarang dia pun melakukannya. Sampai-sampai aku gemas ingin sekali ingin memberinya kultum. Tapi tak pernah kulakukan.
Tentu saja dia bukan makhluk yang sempurna, dia melakukan banyak kesalahan. Namun, aku selalu berusaha "mendengar apa yang dikatakan, bukan melihat siapa yang bicara" Apapun yang ia katakan, sarankan dan nasihatkan kepadaku adalah hal-hal yang baik dan untuk membuatku lebih baik. Dia orang yang baik, bukan?
Entah, apakah dia memiliki ayah sebaik ayahku.
Yang kuyakini, ayahku adalah orang yang baik. Dan Tuhan Maha Baik menjadikan aku bagian dari keluarga ayahku.
Dia orang yang sangat sering memberiku kultum,yang tidak ahanya tujuh menit tentu saja. Ketika aku terlambat sholat berjama'ah, ketika aku lebih keras abernyanyi daripada membca al-qur'an, ketika barang-barangku berserakan tidak tertata, ketika aku berangkat ke sekolah dengan terburu-buru (hal yang juga kupelajari darinya). Serta hal lain, yang tak jarang dia pun melakukannya. Sampai-sampai aku gemas ingin sekali ingin memberinya kultum. Tapi tak pernah kulakukan.
Tentu saja dia bukan makhluk yang sempurna, dia melakukan banyak kesalahan. Namun, aku selalu berusaha "mendengar apa yang dikatakan, bukan melihat siapa yang bicara" Apapun yang ia katakan, sarankan dan nasihatkan kepadaku adalah hal-hal yang baik dan untuk membuatku lebih baik. Dia orang yang baik, bukan?
Entah, apakah dia memiliki ayah sebaik ayahku.
Yang kuyakini, ayahku adalah orang yang baik. Dan Tuhan Maha Baik menjadikan aku bagian dari keluarga ayahku.
Aku
Aku? Entah, aku tak begitu tahu apa yang orang lain tau tentangku. Mereka punya kacamata yang berbeda-beda. Mereka melihatku dari arah, waktu dan kondisi yang berbeda. Ketika kulontarkan pertanyaan "menurutmu, aku ini orang yang bagaimana?" Pernyataan panjang lebar mereka sampaikan, yang terkadang membuatku tidak mengenali diriku. Dari mata mereka.
Aku bukan orang jahat. Aku bisa pastikan hal itu. Setidaknya, dari kacamataku. Aku diajari untuk tidak menjadi jahat. Dan aku tidak pernah belajar untuk berbuat jahat. Ketika orang lain menganggapku jahat, mungkin aku sedang berbuat kesalahan. Namun, aku berjanji tidak akan pernah belajar untuk menjadi jahat.
Aku orang yang naif. Aku suka pemandangan yang indah, lingkungan ayang bersih, alam yang subur, air yang jernih, angin yang sejuk, pohon yang rindang, awan yang teduh dan matahari yang cerah. Namun aku aorang yang naif. Aku masih melanggar banyak budaya "membuang sampah pada tempatnya." Aku bukan pecandu pelanggaran, tapi aku cukup sering melanggar. Aku suka keindahan, tapu aku mengindahkan lingkungan sekitarku. Kamarku, adalah lingkungan yang aku jarang sekali melihatnya indah dan rapi.
Al\ku orang yang cerewet dan pendiam di saat yang bersamaan. Aku orang aneh paling wajar yang pernah kukenal. Aku orang yang jauh lebih baik dari diriku. Ya. Aku tahu aku lebih baik. Aku selalu menjadi lebih baik dari diriku dan akan seterusnya begitu.
Aku.
Aku bukan orang jahat. Aku bisa pastikan hal itu. Setidaknya, dari kacamataku. Aku diajari untuk tidak menjadi jahat. Dan aku tidak pernah belajar untuk berbuat jahat. Ketika orang lain menganggapku jahat, mungkin aku sedang berbuat kesalahan. Namun, aku berjanji tidak akan pernah belajar untuk menjadi jahat.
Aku orang yang naif. Aku suka pemandangan yang indah, lingkungan ayang bersih, alam yang subur, air yang jernih, angin yang sejuk, pohon yang rindang, awan yang teduh dan matahari yang cerah. Namun aku aorang yang naif. Aku masih melanggar banyak budaya "membuang sampah pada tempatnya." Aku bukan pecandu pelanggaran, tapi aku cukup sering melanggar. Aku suka keindahan, tapu aku mengindahkan lingkungan sekitarku. Kamarku, adalah lingkungan yang aku jarang sekali melihatnya indah dan rapi.
Al\ku orang yang cerewet dan pendiam di saat yang bersamaan. Aku orang aneh paling wajar yang pernah kukenal. Aku orang yang jauh lebih baik dari diriku. Ya. Aku tahu aku lebih baik. Aku selalu menjadi lebih baik dari diriku dan akan seterusnya begitu.
Aku.
Romansa Sepasang Cinta
Ini dari marunnya
langit-langit hati,
Nan sesak romansa
Dansa sepasang cinta
dipelataran purnama
Disoroti sinar anggun
melingkari,
Senyum-senyum sarat arti
Ada yang bertemu
disetiap kerling mata
Ada rindu disetiap
segaris senyum
Ada pesan disetiap cinta
yang mengudara
Kini ia membiru, hingga
kelabu
Pelan, namun pasti ia
terjatuh bersimpuh
Entah mengapa semua
menepi
Ada yang sendiri
Yang sendiri itu berdiri
dengan lutut
Mematut diri pada
kediaman yang bisu
Sedih ditingkah sendu
bertamu
Disambut rindu
Kini t’lah berganti
tokoh utama
Pun alurnya
Karena entah mengapa
semua menepi
Tirai disingkap dan digeser
Ada yang sendiri
Yang sendiri itu berdiri
dengan lutut di bawah janggut
Kepala bersandar,
Pada tunduk dan kaki
meja
[Budhe Nunu 2012]
Selasa, 30 Juli 2013
KITA COCOK!
Kamu bisa nulis. Aku bisa baca. Kita cocok. Serasi. Cie
Kamu pandai masak. Aku pinter makan. Kita cocok. Serasi. Cie.
Kamu suka deskripsi-penjelasan- Aku suka narasi-cerita- Kita emang udah cocok.
Kamu suka film, aku suka kamera.
Kamu tertarik sama lukisan, aku tertarik sama kuas.
Kamu ringan bertanya, akutak keberatan menjawab.
Kamu selalu terlihat bahagia, aku selalu terdengar ceria.
Kamu nggak suka digantung, aku nggak suka bergantung.
Kamu akan jadi wanita dan aku akan jadi pria.
Wanita ditakdirkan berpasangan dengan pria.
Aku nggak bermaksud apa-apa, cuman....
Kadang, takdir emang udah keliatan tanda-tandanya.
Kamu pandai masak. Aku pinter makan. Kita cocok. Serasi. Cie.
Kamu suka deskripsi-penjelasan- Aku suka narasi-cerita- Kita emang udah cocok.
Kamu suka film, aku suka kamera.
Kamu tertarik sama lukisan, aku tertarik sama kuas.
Kamu ringan bertanya, akutak keberatan menjawab.
Kamu selalu terlihat bahagia, aku selalu terdengar ceria.
Kamu nggak suka digantung, aku nggak suka bergantung.
Kamu akan jadi wanita dan aku akan jadi pria.
Wanita ditakdirkan berpasangan dengan pria.
Aku nggak bermaksud apa-apa, cuman....
Kadang, takdir emang udah keliatan tanda-tandanya.
Jumat, 26 Juli 2013
Ini keluargaku, dan kisah kami
Jam pagi kami, tidaklah terlalu pagi. Pukul empat lewat tiga puluh menit. Cukup pagi memang, untuk orang yang suka bermalas-malasan. Ya, aku. Kami tergolong keluarga yang fleksibel soal waktu. Ya, seperti karet. Terkadang tepat waktu, tak jarang terlambat, dan jarang datang lebih awal. Namun ayahku -aku memanggilnya bapak- adalah orang yang disiplin. Sangat disiplin. Kecuali soal waktu, tentu saja.
Tidak, kami bukan keluarga militer. Bukan juga keturunan kesekian dari keluarga militer. Kami, hanya warga sipil biasa. Dalam silsilah keluarga ayahku, hanya kakekku lah yang sempat mengenyam pendidikan militer, hampir ikut berperang, namun tidak mendapat kesempatan. Usianya saat itu delapan tahun, sedangkan syarat mutlak agar bisa dikirim menjadi tentara adalah sembilan tahun. Ia adalah atlet yang hebat, pelompat tinggi yang lebih hebat, dan pejalan kaki yang luar biasa hebat. Setidaknya, begitulah menurut cerita yang tidak pernah ia lupa untuk diceritakan padaku, dan seperti biasa akan diakhiri dengan kalimat tanya "koe ora kepengin dadi tentara?" yang berarti "Kamu tidak ingin menjadi tentara?" Dan aku hanya menggeleng, tersenyum takzim.
Sedangkan silsilah dari keluarga ibuku, kesemuanya hanyalah petani biasa. Bukan tentara maupun pegawai pemerintahan, bukan juga anggota keraton. Keluarga petani yang cukup bahagia dengan kesedarhanaan hidup. Bertani untuk makan dan makan untuk bertani.
Keluarga kami tergolong keluarga yang mampu, namun tidaklah serba berkecukupan. Orang tuaku, ayah dan ibuku hanyalah guru SD, PNS, kuli pemerintah. Tiap bulan mereka mengharap bayaran dari pemerintah, dari uang rakyat. Meskipun tergolong mampu, keluarga kami belum bisa berdiri sendiri. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana yang didirikan oleh ayahku, kepala keluarga kami. Didirikan di atas tanah milik kakek buyutku, Dullah Kadir.
Nama yang berhasil -dengan cepat- membuat orang-orang dilingkunganku mudah mengenaliku. Konon, kakekku yang satu ini memiliki banyak tanah. Masa mudanya ia habiskan dengan menjadi pengusaha, cukup sukses pada kala itu. Lebih sukses dibanding ayah dari ayahku, yang merupakan menantu dari kakek buyutku. Maka para tetangga akan lebih familiar dengan sebutan "putune Mbah Dullah Kodir" dibanding "putune Mbah Sasmitareja" Meskipun kesemuanya benar. Aku cucu mereka.
Ayahku adalah cucu favorit mbah Dullah Kodir dan istrinya, ini tak lepas dari fakta bahwa ayahku dibesarkan oleh mereka. Nenekku -yang tak lain adalah anak sulung mereka dan ibu dari ayahku tentu saja- jatuh sakit setelah melahirkan ayahku pada hari kedua lebaran. 'Idul Fitri. Dan mungkin, ini juga yang mendasari ayahku untuk merawat kakek dan neneknya hingga usia senja, dan terbenam. Tidak, ia bukan orang yang durhaka, tentu saja ayahku telah membangunkan sebuah rumah yang jelas jauh lebih layak (dibanding ketika ayahku kecil) untuk kedua orang tuanya dan adik adiknya. Sepuluh bersaudara.
Bukan kehidupan yang mudah tentu saja. Setidaknya dibandingkan dengan hidupku, dengan tiga saudara, dan makanan serta tempat tinggal yang berkali-kali lipat lebih layak. Begitu banyak lipatan, hingga terkadang aku lupa untuk mengucap syukur atas yang aku miliki-yang mereka berikan, gratis.
Aku terkadang lupa, bagaimana ayahku -ketika kecil- harus memakai rok, karena kedua kakaknya adalah perempuan dan harga celana tidaklah semurah segenggam padi. Tentu saja ayahku menangis, ditertawakan oleh teman-temnnya, anak-anak lain, dan bahkan orang dewasa disekitarnya. Itu adalah kali pertama ayahku memakai pakaian lengkap, berseragam, itu adalah kali pertama ia bersekolah. Sebelum ia bersekolah, celana dan rok tidaklah penting. Setidaknya, tidak lebih penting dari sepiring nasi. Maka saat itu juga, anak kecil itu tak mau lagi berangkat sekolah. Kecuali memakai celana. Aku terpingkal-pingkal, terbahak-bahak ketika diceritakan kisah ini oleh nenekku, aku tertawa keras sekali. Kemudian menangis.
bersambung....
Tidak, kami bukan keluarga militer. Bukan juga keturunan kesekian dari keluarga militer. Kami, hanya warga sipil biasa. Dalam silsilah keluarga ayahku, hanya kakekku lah yang sempat mengenyam pendidikan militer, hampir ikut berperang, namun tidak mendapat kesempatan. Usianya saat itu delapan tahun, sedangkan syarat mutlak agar bisa dikirim menjadi tentara adalah sembilan tahun. Ia adalah atlet yang hebat, pelompat tinggi yang lebih hebat, dan pejalan kaki yang luar biasa hebat. Setidaknya, begitulah menurut cerita yang tidak pernah ia lupa untuk diceritakan padaku, dan seperti biasa akan diakhiri dengan kalimat tanya "koe ora kepengin dadi tentara?" yang berarti "Kamu tidak ingin menjadi tentara?" Dan aku hanya menggeleng, tersenyum takzim.
Sedangkan silsilah dari keluarga ibuku, kesemuanya hanyalah petani biasa. Bukan tentara maupun pegawai pemerintahan, bukan juga anggota keraton. Keluarga petani yang cukup bahagia dengan kesedarhanaan hidup. Bertani untuk makan dan makan untuk bertani.
Keluarga kami tergolong keluarga yang mampu, namun tidaklah serba berkecukupan. Orang tuaku, ayah dan ibuku hanyalah guru SD, PNS, kuli pemerintah. Tiap bulan mereka mengharap bayaran dari pemerintah, dari uang rakyat. Meskipun tergolong mampu, keluarga kami belum bisa berdiri sendiri. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana yang didirikan oleh ayahku, kepala keluarga kami. Didirikan di atas tanah milik kakek buyutku, Dullah Kadir.
Nama yang berhasil -dengan cepat- membuat orang-orang dilingkunganku mudah mengenaliku. Konon, kakekku yang satu ini memiliki banyak tanah. Masa mudanya ia habiskan dengan menjadi pengusaha, cukup sukses pada kala itu. Lebih sukses dibanding ayah dari ayahku, yang merupakan menantu dari kakek buyutku. Maka para tetangga akan lebih familiar dengan sebutan "putune Mbah Dullah Kodir" dibanding "putune Mbah Sasmitareja" Meskipun kesemuanya benar. Aku cucu mereka.
Ayahku adalah cucu favorit mbah Dullah Kodir dan istrinya, ini tak lepas dari fakta bahwa ayahku dibesarkan oleh mereka. Nenekku -yang tak lain adalah anak sulung mereka dan ibu dari ayahku tentu saja- jatuh sakit setelah melahirkan ayahku pada hari kedua lebaran. 'Idul Fitri. Dan mungkin, ini juga yang mendasari ayahku untuk merawat kakek dan neneknya hingga usia senja, dan terbenam. Tidak, ia bukan orang yang durhaka, tentu saja ayahku telah membangunkan sebuah rumah yang jelas jauh lebih layak (dibanding ketika ayahku kecil) untuk kedua orang tuanya dan adik adiknya. Sepuluh bersaudara.
Bukan kehidupan yang mudah tentu saja. Setidaknya dibandingkan dengan hidupku, dengan tiga saudara, dan makanan serta tempat tinggal yang berkali-kali lipat lebih layak. Begitu banyak lipatan, hingga terkadang aku lupa untuk mengucap syukur atas yang aku miliki-yang mereka berikan, gratis.
Aku terkadang lupa, bagaimana ayahku -ketika kecil- harus memakai rok, karena kedua kakaknya adalah perempuan dan harga celana tidaklah semurah segenggam padi. Tentu saja ayahku menangis, ditertawakan oleh teman-temnnya, anak-anak lain, dan bahkan orang dewasa disekitarnya. Itu adalah kali pertama ayahku memakai pakaian lengkap, berseragam, itu adalah kali pertama ia bersekolah. Sebelum ia bersekolah, celana dan rok tidaklah penting. Setidaknya, tidak lebih penting dari sepiring nasi. Maka saat itu juga, anak kecil itu tak mau lagi berangkat sekolah. Kecuali memakai celana. Aku terpingkal-pingkal, terbahak-bahak ketika diceritakan kisah ini oleh nenekku, aku tertawa keras sekali. Kemudian menangis.
bersambung....
Langganan:
Postingan (Atom)