Minggu, 13 April 2014

MASALAH

Masalah jangan dipermasalahkan, makin dipermasalahkan suatu masalah, makin jadi masalah itu permasalahan. Masalah jangan dianggap permasalahan, permasalahan jangan dianggap masalah juga, karena kalau permasalahan itu dianggap masalah maka akan jadi permasalahan juga masalah permasalahan itu.

Manusia memang senang sekali membuat masalah, tapi mereka benci ketika mendapat masalah. Mereka suka sekali mencari masalah, tapi ketika mereka menemukan masalah, mereka marah. Ah, masalah memang selalu membuat kita dalam masalah. Bermasalah.

Hidupku banyak masalah, tapi masalahku membuat aku hidup. Iya, karena kalo aku mati, aku tidak mungkin punya masalah. Orang-orang hidup yang berada didekatku yang akan mendapat masalah. Hahaha, lucu. Sama dengan kebodohan. Kalo kamu bodoh, kamu tidak akan memiliki permasalahan, tapi orang orang didekatmu yang akan mendapat masalah.

Masalah memang selalu membuat kita berpikir, terkadang kita hanya berpikir ketika kita menemukan masalah, atau ketika kita berpikirlah kita akan menemukan masalah? Ah entahlah. Aku tak mau membuat hal itu menjadi masalah. Aku sudah memiliki cukup banyak masalah yang masih terus kupermasalahkan. Iya, masalahku belum juga terselesaikan. Tapi tak apa, itu membuat otakku terus bekerja. Setidaknya, membuat otakku seolah bekerja.

Dan aku akan tampak sibuk dimata orang lain, karena aku benci jika disibukkan oleh orang lain. Aku memilih dan dipilih oleh kesibukan sendiri. Aku memang jarang sekali sibuk, aku juga jarang tampak sibuk. Kesibukanku adalah membuat diriku tampak sibuk. Aku sangat sibuk mencari kesibukan yang bisa membuatku terlihat sibuk.

Lihat, aku sangat sibuk kan?

Kesibukanku ini memakan banyak waktu. Waktuku, aku kehabisan waktu. Mereka bilang waktu adalah uang. Aku tidak peduli dengan uang, tapi aku peduli dengan waktu-dan sekali lagi ini tidak berarti aku peduli dengan uang. Aku kan dengan senang hati memberikan uangku kepada orang lain, tapi aku selalu kehabisan uang. Aku juga tidak memiliki banyak waktu, yang bisa kuberikan.

Belakangan ini bahkan aku tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri. Entahlah, pergi kemana waktu-waktu yang dulu seolah kubuang-buang dengan boros, dengan somobong, dengan tanpa memerhatikan efektivitas waktu, umur, usia.

Ah lucu, bagaimana aku bisa menyediakan waktuku untuk orang lain, ketika bahkan aku tidak memilikinya untuk diriku sendiri. Aku ingin memberikan waktuku untuk orang lain, sungguh… Aku bahkan akan membayarnya, membelinya, dengan… berapapun, atau apapun harga yang memang harus kuberikan. Lucu, kan?

Masalahku adalah waktu yang terus berjalan menggilas pikiranku yang bodoh namun aku hanya diam dan menganggapnya menjadi hal yang lucu. Untuk ditertawakan, bukan dipermasalahkan.

Huh, dasar masalah. Tetapi sekali lagi, kalo tak ada masalah dari mana lagi kita akan belajar? 


to be continued...

Jumat, 07 Februari 2014

pundak

Ini soal pundak.

Kadang kala, kau mungkin merasa membutuhkan pundak.
Sekadar ingin menyandarkan kepala, merebahkan rasa lelah karena hidup, menyambut kenyamanan rasa kantuk dan mencoba terlelap di atas pundak itu.
Namun, kau juga perlu pahami. Pundak macam apa yang kau jadikan sandaran.
Kau musti paham betul pundak yang kau pilih itu tepat, dan tidak akan membahayakanmu, atau menjatuhkanmu di tengah jalan.
Terlebih lagi, menjebakmu, memberikanmu perasaan yang luarbiasa nyaman seolah kau telah menemukan rumahmu sendiri, namun di waktu yang bersamaan, membongkar semua aib dan sisi lemahmu, sisi yang harus dijaga dan dilindungi.

Kehormatan.

Maka ada kalanya kau harus sadar, bahwa kau belum membutuhkan pundak itu.
Kau masih harus mampu bersandar pada tulang belakangmu sendiri.
Masih harus mampu menjaga dirimu, kehormatanmu.
Sendiri tidak selalu berarti buruk, dan bersama tidak pernah selalu baik.

Kamis, 17 Oktober 2013

Dia, Sahabat Terbaikku

Aku punya sahabat. Dia adalah sahabat terbaik di dunia. Mungkin, kau akan iri kepadaku. Dia adalah sahabat paling hebat di alam semesta.

Dia adalah sahabat terbaikku. Kenapa? Dia adalah orang yang paling peduli kepadaku, peduli terhadap masa depanku, bahkan peduli pada pandanganku terhadap masa depanku.

Dia adalah kritikus yang paling rajin mengkritik setiap gerak-gerikku, bahkan bagaimana cara menarik atau menghembuskan nafas. Dia adalah saingan terhebatku dalam olahraga, yang mengubah joging pagiku yang santai menjadi lomba sprint jarak 200 meter yang menegangkan dan kental aroma persaingan. 

Dia memiliki wajah dan ekspresi yang selalu membuatku iri, selalu membuatku terjebak dalam tawa yang terpecah dari kebohodohan paling konyol yang pernah terpikir oleh umat manusia.

Dia juga memiliki jiwa artistik yang cukup tinggi, kolaborasi gambar tangan yang kita buat seringkali melahirkan maha karya yang sangat luar biasa--setidaknya untuk kita berdua, menciptakan dunia baru yang sama sekali buta akan ke-kaku-an, menghasilkan pemandangan yang tak pernah habis dalam pencarian makna baru.

Dan dia, adalah pendebat paling hebat di antara orang-orang yang pernah aku hadapi, bahkan kita mendebatkan hal-hal yang sudah disepakati.

Dia adalah juga, objek pelampiasan terbaik yang bisa kudapatkan ketika aku marah dengan hidupku. Dia adalah lawan tanding yang bisa kuhajar habis-habisan dan lawan tanding yang bisa menghajarku hingga habis-habisan itu benar-benar habis.

Dan día adalah guru sekaligus panutan yang paling mudah untuk diikuti. Tidak pernah menggurui tapi selalu memberi pengetahuan, tidak pernah mendikte tetapi selalu menuntun kita semua.


Dia tertawa paling keras terhadap kebodohanku. Dia berteriak paling keras, untuk menyemangatiku. Dia bertepuk paling kencang, terhadap segala keberhasilan yang kucapai.

Dia adalah orang yang selalu dan paling memercayaiku, hingga aku tak pernah berhenti memercayai diriku sendiri.

Kamis, 03 Oktober 2013

Maybe sometimes, honest is not the best policy. But still...

“So you're always honest," I said.

"Aren't you?"

"No," I told him. "I'm not."

"Well, that's good to know, I guess."

"I'm not saying I'm a liar," I told him.
He raised his eyebrows. "That's not how I meant it, anyways."

"How'd you mean it, then?"

"I just...I don't always say what I feel."

"Why not?"

"Because the truth sometimes hurts," I said.

"Yeah," he said. "So do lies, though.”

Senin, 02 September 2013

KULIAH PERTAMA - galauan pertama of the month


Semua orang pernah merasa khawatir. Faktanya, setiap orang pernah mengalami gangguan psikologis. Masalah kesehatan psikologis, tergantung pada kesehatan biologis, psikologis dan sosial. Kesehatan psikologis tidak hanya memengaruhi individu tsb, tetapi juga individu-individu dalam kelompok sosialnya.

"There is no health witouth MENTAL HEALTH!! " - WHO

Itu adalah secuplik kuliah gue hari ini, sepotong. Emang sengaja gue cuplik sedikit aja. Bukan. Bukan karena gue nggak merhatiin, tapi emang ya kepengen aja nyuplik cuman segitu. Karena psotingan gue kali ini emang cuman pengen ngomongin soal itu. Iya, yang secuplik itu.

Serangkaian KAMABA (kegiatan awal mahasiswa baru) udah gue jalanin. Mulai dari padus-padusan, OKK, PSAU sampe PSAF. Dan hari ini, Senin 2 September 2013 gue mulai kuliah perdana gue. I'm so excited, tadinya. Tapi setelah melalui beberapa rangkaian kuliah. (Hari ini gue ada 3 kuliah. pertama kuliah umum yang bareng2 satu angkatan, materinya ttg yah.... pengantar gitu. kedua, gue masuk ke kuliah sejarah psikologi. dikelas ini gue mulai agak kerasa syndrom ngantuk. dan beberapa kali tenggelam dalam rasa kantuk. dan materi yang diterangkan pun bagai barisan karnaval yang lewat : udahgituaja. Ketiga, gue ada materi penulisan ilmiah. yang kebetulan dosennya nggak bisa, dan pake dosen pengganti) Gue malah disergap perasaan khawatir.

Oke lah, motivasi gue naik berkali-kali lipat ketika dipaparkan berbagai fakta mengenai ke-psikologi-an di Indonesia. Yang faktanya memang Indonesia sangat butuh banyak psikolog, atau at least orang yang ngerti psikologi. That means, gue, kita para mahasiswa psikologi bakal dibutuhin oleh Indonesia. Which mean, kita nggak mungkin useless belajar psikologi di UI pula. Gue juga bakal seneng banget ketika gue bisa bermanfaat buat orang lain. Overall, kuliah pertama is good. It's build my mood or my spirit or apa aja lah. It makes my day.

Tapi di materi kuliah yang kedua mulai muncul masalah. Sejarah, adalah materi yang paling gue hindari setelah matematika. And that's mata kuliah wajib yang gue harus ambil dan harus lulus -dan kalo pengen IPK bagus, berati IP matkul ini juga wajib bagus. Intro-nya emang masih enjoyable, gue masih bisa nyimak. Karena belum terlalu ke-sejarahsejarah-an. Tapi nyampe intinya, gue mulai gusar, pasalnya : kantuk nggak bisa tertahan lagi, walhasil sempet gue beberapa kali tertidur. And that's bad. Extremly bad. Wich also mean, that's not good. What's make me so worried is.... gue susah buat merhatiin dosen yang ngajar -faktor ngantuk, juga susah nyatetnya karena slidenya cepet. Itu berarti gue harus ada buku pegangan, yah itu pun kalo gue bisa nahan ngantuk ketika belajar itu buku.  Tapi sebelum kejauhan ngimpi punya bukunya, ternyata bukunya itu.... Introduction to the History of Psychology by B. R. Hergenhahn seharga £57.94

Kalo lo nggak tau berapa rupiah, intinya itu buku mahal banget. Iya, banget. Katakanlah satu juta. Buat satu mata kuliah. Iya. Segitu. Enggak. Gue nggak ngarang. Enggak. Gue nggak sanggup beli. Bonyok pun gue pikir bakal mikir beberapa kali buat ngebeliin gue itu buku. Serius. Kapan coba gue becanda?!

Mata kuliah yang ketiga di hari ini-itu, penulisan ilmiah. Dosennya -seperti tadi udah dibilang- berhalangan hadir, jadi make dosen pengganti yang gue nggak terlalu suka. Ya, secara harfiah gue nggak pernah bener-bener suka sama seseorang sih. Nggak suka bukan berarti gue benci, apalagi membantah setiap ilmu atau teori yang beliau kemukakan loh ya. Iya. Juga, mata kuliah ini gue agak ngerasa khawatir, karena gue dituntut berpikir  secara PARSIMONI, sesuai law of thought, logic dan obyektif. Sedangkan, as you know pikiran gue acak, abstrak dan berantakan. it seems impossible.

But, i believe... impossible is nothing (quotes by adidas) Impossible yang dikatakan orang-orang itu, karena malas, karena takut gagal, karena khawatir salah, karena tak berani memulai, karen takut terhenti di jalan dan DIKATAI gagal. Impossible sering berarti pelarian dari keharusan untuk berusaha keras, berjuang sekuat tenaga, bermimpi setinggi langit dan impossible sering kali menjadi kedok untuk orang-orang yang menertawakan usaha orang lain serta orang orang yang menertawakan dirinya sendiri.

Gue takut, that's fine. Gue berani, that's better. So, apapun masalahnya, seberapapun beratnya, sebagaimanapun rumit dan kompleksnya.... gue janji buat terus berusaha.

Sebagaimanapun gue terseok-seok karena kekurangan peralatan penunjang. Sebagaimanapun gue kewalahan karena masalah pribadi gue sama beberapa pelajaran. Sebagaimanapun susahnya gue buat menyesuaikan diri dengan atmosfir jakarta (yeah i mean Depok) Seberapapun, sebagaimanapun alasan-alasan itu akan membuat gue mengeluh. Gue akan terus berusaha. I'll never give up. I'm not a quitter. I'm a climber. 

"10-20 tahun mendatang. Anda akan lebih menyesali apa yang tidak Anda lakukan dibanding apa yang anda lakukan."

Sabtu, 24 Agustus 2013

Cinta, bahasa tanpa huruf atau suara

Kalo kita mepelajari cinta dari membaca buku-buku Khalil Gibran, yang akan kita dapatkan adalah pengetahuan tentang cinta serta liku-liku yang panjang tidak habis-habisnya.

Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku-liku, cinta itu sebuah fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula-gula.

Cinta itu... kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya, Anda akan menjadi cinta itu sendiri. Anda akan menceritakan diri Anda yang kasmaran dengan lancar. Cinta itu bercerita dengan bahasa tanpa huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga, dengan rumah, dengan bahasa apa saja. Yang penting orang tahu itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.

Jumat, 23 Agustus 2013

WIN

Let me tell you something you already know. The world ain't all sunshine and rainbows. It's a very mean and nasty place and I don't care how tough you are it will beat you to your knees and keep you there permanently if you let it. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain't about how hard ya hit. It's about how hard you can get it and keep moving forward. How much you can take and keep moving forward. That's how winning is done! Now if you know what you're worth then go out and get what you're worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain't where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain't you! You're better than that!