Selasa, 30 Juli 2013

KITA COCOK!

Kamu bisa nulis. Aku bisa baca. Kita cocok. Serasi. Cie

Kamu pandai masak. Aku pinter makan. Kita cocok. Serasi. Cie.

Kamu suka deskripsi-penjelasan- Aku suka narasi-cerita- Kita emang udah cocok.

Kamu suka film, aku suka kamera.
Kamu tertarik sama lukisan, aku tertarik sama kuas.
Kamu ringan bertanya, akutak keberatan menjawab.
Kamu selalu terlihat bahagia, aku selalu terdengar ceria.
Kamu nggak suka digantung, aku nggak suka bergantung.



Kamu akan jadi wanita dan aku akan jadi pria.
Wanita ditakdirkan berpasangan dengan pria.


Aku nggak bermaksud apa-apa, cuman....
Kadang, takdir emang udah keliatan tanda-tandanya.

Jumat, 26 Juli 2013

Ini keluargaku, dan kisah kami

Jam pagi kami, tidaklah terlalu pagi. Pukul empat lewat tiga puluh menit. Cukup pagi memang, untuk orang yang suka bermalas-malasan. Ya, aku. Kami tergolong keluarga yang fleksibel soal waktu. Ya, seperti karet. Terkadang tepat waktu, tak jarang terlambat, dan jarang datang lebih awal. Namun ayahku -aku memanggilnya bapak- adalah orang yang disiplin. Sangat disiplin. Kecuali soal waktu, tentu saja.

Tidak, kami bukan keluarga militer. Bukan juga keturunan kesekian dari keluarga militer. Kami, hanya warga sipil biasa. Dalam silsilah keluarga ayahku, hanya kakekku lah yang sempat mengenyam pendidikan militer, hampir ikut berperang, namun tidak mendapat kesempatan. Usianya saat itu delapan tahun, sedangkan syarat mutlak agar bisa dikirim menjadi tentara adalah sembilan tahun. Ia adalah atlet yang hebat, pelompat tinggi yang lebih hebat, dan pejalan kaki yang luar biasa hebat. Setidaknya, begitulah menurut cerita yang tidak pernah ia lupa untuk diceritakan padaku, dan seperti biasa akan diakhiri dengan kalimat tanya "koe ora kepengin dadi tentara?" yang berarti "Kamu tidak ingin menjadi tentara?" Dan aku hanya menggeleng, tersenyum takzim.

Sedangkan silsilah dari keluarga ibuku, kesemuanya hanyalah petani biasa. Bukan tentara maupun pegawai pemerintahan, bukan juga anggota keraton. Keluarga petani yang cukup bahagia dengan kesedarhanaan hidup. Bertani untuk makan dan makan untuk bertani.

Keluarga kami tergolong keluarga yang mampu, namun tidaklah serba berkecukupan. Orang tuaku, ayah dan ibuku hanyalah guru SD, PNS, kuli pemerintah. Tiap bulan mereka mengharap bayaran dari pemerintah, dari uang rakyat. Meskipun tergolong mampu, keluarga kami belum bisa berdiri sendiri. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana yang didirikan oleh ayahku, kepala keluarga kami. Didirikan di atas tanah milik kakek buyutku, Dullah Kadir.

Nama yang berhasil -dengan cepat- membuat orang-orang dilingkunganku mudah mengenaliku. Konon, kakekku yang satu ini memiliki banyak tanah. Masa mudanya ia habiskan dengan menjadi pengusaha, cukup sukses pada kala itu. Lebih sukses dibanding ayah dari ayahku, yang merupakan menantu dari kakek buyutku. Maka para tetangga akan lebih familiar dengan sebutan "putune Mbah Dullah Kodir" dibanding "putune Mbah Sasmitareja" Meskipun kesemuanya benar. Aku cucu mereka.

Ayahku adalah cucu favorit mbah Dullah Kodir dan istrinya, ini tak lepas dari fakta bahwa ayahku dibesarkan oleh mereka. Nenekku -yang tak lain adalah anak sulung mereka dan ibu dari ayahku tentu saja- jatuh sakit setelah melahirkan ayahku pada hari kedua lebaran. 'Idul Fitri. Dan mungkin, ini juga yang mendasari ayahku untuk merawat kakek dan neneknya hingga usia senja, dan terbenam. Tidak, ia bukan orang yang durhaka, tentu saja ayahku telah membangunkan sebuah rumah yang jelas jauh lebih layak (dibanding ketika ayahku kecil) untuk kedua orang tuanya dan adik adiknya. Sepuluh bersaudara.

Bukan kehidupan yang mudah tentu saja. Setidaknya dibandingkan dengan hidupku, dengan tiga saudara, dan makanan serta tempat tinggal yang berkali-kali lipat lebih layak. Begitu banyak lipatan, hingga terkadang aku lupa untuk mengucap syukur atas yang aku miliki-yang mereka berikan, gratis.

Aku terkadang lupa, bagaimana ayahku -ketika kecil- harus memakai rok, karena kedua kakaknya adalah perempuan dan harga celana tidaklah semurah segenggam padi. Tentu saja ayahku menangis, ditertawakan oleh teman-temnnya, anak-anak lain, dan bahkan orang dewasa disekitarnya. Itu adalah kali pertama ayahku memakai pakaian lengkap, berseragam, itu adalah kali pertama ia bersekolah. Sebelum ia bersekolah, celana dan rok tidaklah penting. Setidaknya, tidak lebih penting dari sepiring nasi. Maka saat itu juga, anak kecil itu tak mau lagi berangkat sekolah. Kecuali memakai celana. Aku terpingkal-pingkal, terbahak-bahak ketika diceritakan kisah ini oleh nenekku, aku tertawa keras sekali. Kemudian menangis.



bersambung....

Kamis, 11 Juli 2013

Anak yang tidak kekanak-kanakan


Saya suka menjadi anak-anak. Selalu menyukai anak-anak. Berharap bisa kembali menjadi anak-anak. Dan tetap menjadi anak-anak.

“The creative adult is the child who survived”

Saya suka quote diatas. Saya sangat suka. Saya bukan mengatakan bahwa qoute tadi benar, atau paling tepat. Tapi, saya sependapat. Dan saya menyukainya.


Entah mengapa, tidak semua orang menyukai anak-anak. Padahal anak-anak (ketika mereka masih menjadi anak-anak) adalah salah satu makhluk yang sangat lucu, imut, ngegemesin yang pernah Tuhan ciptakan di muka bumi. Contoh deh, pada tau semua kan? Yang namanya Nabilah Ratna Ayu, atau Ayu-san, atau Nabila JKT48? Nah iya~

Saya paham kalau anda paham bahwa saya hanya bercanda. Atau jangan-jangan.... anda paham bahwa saya paham kalo anda paham bahwa saya hanyan bercanda??? Ah. Anda pasti paham.


Namun yang perlu anda pahami adalah, Nabilah Ratna Ayu (atau nama google-nya Nabila JKT48) adalah benar seorang anak-anak. Anda yang mengaku fans beratnya JKT48 saya pikir lebih paham. Yah, walaupun sudah tidak terlalu anak-anak memang. Saya yakin antara untuk dijadiin adek atau pacar, para cowok tentu akan lebih memilih untuk menjadikannya pacar. Tapi sudahlah saya paham, anda tentu paham bahwa yang saya maksud anak-anak disini adalah yang benar anak-anak. Dimana apabila anda menemuinya ada perasaan ingin nyubit (berlaku buat nabila), ingin nggendong (gue sendiri ngimpi nggendong nabila), ingin ngajakin main pokoknya (main sama nabila? Oh god!) Ah, susah ternyata. Simpelnya gini, anak yang saya maksud disini adalah anak-anak dan kecuali nabila.


Anak-anak adalah pelawak paling handal dimuka bumi. Ya. Maksud saya juga, penghibur. Entahlah, pelawak atau penghibur saya pikir tidak kedengaran begitu baik. Atau mungkin bahasa yang lebih trendy ; mood booster atau smile maker, atau apalah intinya mereka dengan mudahnya dengan naturalnya dapat menciptakan sesimpul senyum dari bibir kita –para mantan anak-anak.


Kenapa? Well, itu pertanyaan yang cukup sulit. Mengingat saya sudah jarang belajar. Tapi saya akan coba menjawabnya –dengan susah payah mungkin. Yakan memang tidak sesimple cap-cip-cup-kembang-kuncup-mekar-indah-dipetik-danmati. Tidak sesimpel milih a,b,c,d,e juga. Sulit. Hampir sesulit milih antara kamu atau Nabila. #OKENGACO


Jadi, menurut saya they can make us smilling easyly because they do it, honestyly. Seperti yang saya katakan, akan sulit  menjawabnya diantaranya adalah karena bahasa inggris saya berantakan. Tapi menut pendapat saya itu, karena mereka melakukan apapun dengan jujur, ikhlas, dan apa adanya.


Mereka tertawa saat mereka senang, tersenyum dan terkadang berlompat-lompat, bergelantungan di pohon, mainan ekor. #okengaco ini monyet.  Mereka menangis saat sedih, mereka cemberut ketika sebel, tidur ketika ngantuk dan makan ketika lapar. Right?


There’s no drama in their life. No fake smile, fake tears and fake face (ya mana ada anak kecil kepikiran operasi plastik). Kita sebagai mantan anak-anak tidak seharusnya meninggalkan budaya baik ini. Jujur. Tidak terlalu banyak drama, tidak terlalu banyak berpura-pura, tidak terlalu banyak kebohongan. 

“If you say the truth, you don’t have to remember anything”

Entahlah, intinya seperti itu. Saya selalu meragukan kemampuan ber-english ria saya. Ketika anda bicara jujur, ada tidak perlu mengingat apapun.  Oke, disini saya tidak menghakimi, saya tidak menuduh bahwa anda seorang pembohong. Tapi saya hanya bertanya. Sudah berapa puluh-ratus-ribu kali anda berbohong dalam hidup anda. Saya tidak mendengar jawaban anda, saya tidak akan tahu, jangan khawatir, kebohongan anda masih aman.


Namun, inilah yang tidak kita miliki dari anak-anak. Mereka tanpa bersusah payah, bertindak jujur. Sedangkan kita, menggunakan alasan-alasan murahan untuk berbohong, bahkan sempat mencari pembenaran dengan berkata “ini yang terbaik”.
Kebaikan yang diselimuti keburukan, seperti emas yang direndam dalam kolam kotoran. Siapa yang mau menerimanya? Percayalah, yang terbaik adalah kebenaran yang diselimuti kebenaran.


Oke, saya pikir saya sudah terlalu banyak bicara. Terlalu banyak membahas kita, dan agak lupa soal anak-anak.

 “What can we learn from children is.... they dare to dream, they dare to love and not afraid of being hurt, they trust each other, they’re creative, they bring happines to each other, and they cry.”


Dan hal yang perlu anda ingat adalah, anda tidak perlu berpura-pura ketika anda telah dewasa. Anda tidak perlu takut untuk mencintai karena khawatir akan tersakiti, anda tidak perlu takut untuk bermimpi karena anda pikir itu tidak realistis.

“Mimpi tidak perlu realistis, usaha perlu realistis.”

Anda tidak perlu sok kuat, berlagak tidak bersedih, yang akhirnya tumpah dalam kedepresian yang berkepanjangan. Jika memang bersedih, air mata anda tidak lah semahal itu untuk ditumpahkan. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi menangis juga tidak menyebabkan anda terancam penyakit jantung, stoke dan lain-lain. Jika anda ingin masalah anda selesai, ya hadapi. Anak kecil pun tahu.



Yang mereka tidak tahu, dan tidak miliki dari kita adalah.... Tanggung jawab. Mereka melakukan apapun, semau mereka, sesuai keinginan mereka, dengan leluasa, karena mereka tidak dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Mereka tidak dihadapkan pada harus memilih antara realististis atau idealis, karena mereka tidak dituntut untuk bertanggung jawab nantinya. Dan kita harus.

Dan ketika kita tidak memedulikannya, mereka (orang-orang dewasa lain) akan menganggap kita kenak-kanakkan. Dan ya.


Hal yang anak-anak miliki, mereka bersifat kekanak-kanakkan. Dan kita? Semoga saja tidak.






Untuk semua anak-anak. Yang tanpa drama, tanpa pura-pura, kreatif dan bijaksana.
Sekian.

Jumat, 05 Juli 2013

#sportquotes3

"Ask yourself if what you're doing today is getting you closer to where you want to be tomorrow"

"you don't need a runner's body to run. but, you do need to run to get a runner's body"

"you don't have to go fast. you just have to go".

"a goal is a dream with a deadline"

"NIKE : just do it. Even you suck at it"

"Sometimes you don't get what you wish for. But, you can get what you work for"

 "you do exercise because you love your body, not because you hate it"

 

#SPORTQUOTES2

Instead of saying "I don't have time" try saying "it's not a priority," and see how that feels.
#SPORTQUOTES