Kamis, 17 Oktober 2013

Dia, Sahabat Terbaikku

Aku punya sahabat. Dia adalah sahabat terbaik di dunia. Mungkin, kau akan iri kepadaku. Dia adalah sahabat paling hebat di alam semesta.

Dia adalah sahabat terbaikku. Kenapa? Dia adalah orang yang paling peduli kepadaku, peduli terhadap masa depanku, bahkan peduli pada pandanganku terhadap masa depanku.

Dia adalah kritikus yang paling rajin mengkritik setiap gerak-gerikku, bahkan bagaimana cara menarik atau menghembuskan nafas. Dia adalah saingan terhebatku dalam olahraga, yang mengubah joging pagiku yang santai menjadi lomba sprint jarak 200 meter yang menegangkan dan kental aroma persaingan. 

Dia memiliki wajah dan ekspresi yang selalu membuatku iri, selalu membuatku terjebak dalam tawa yang terpecah dari kebohodohan paling konyol yang pernah terpikir oleh umat manusia.

Dia juga memiliki jiwa artistik yang cukup tinggi, kolaborasi gambar tangan yang kita buat seringkali melahirkan maha karya yang sangat luar biasa--setidaknya untuk kita berdua, menciptakan dunia baru yang sama sekali buta akan ke-kaku-an, menghasilkan pemandangan yang tak pernah habis dalam pencarian makna baru.

Dan dia, adalah pendebat paling hebat di antara orang-orang yang pernah aku hadapi, bahkan kita mendebatkan hal-hal yang sudah disepakati.

Dia adalah juga, objek pelampiasan terbaik yang bisa kudapatkan ketika aku marah dengan hidupku. Dia adalah lawan tanding yang bisa kuhajar habis-habisan dan lawan tanding yang bisa menghajarku hingga habis-habisan itu benar-benar habis.

Dan día adalah guru sekaligus panutan yang paling mudah untuk diikuti. Tidak pernah menggurui tapi selalu memberi pengetahuan, tidak pernah mendikte tetapi selalu menuntun kita semua.


Dia tertawa paling keras terhadap kebodohanku. Dia berteriak paling keras, untuk menyemangatiku. Dia bertepuk paling kencang, terhadap segala keberhasilan yang kucapai.

Dia adalah orang yang selalu dan paling memercayaiku, hingga aku tak pernah berhenti memercayai diriku sendiri.

Kamis, 03 Oktober 2013

Maybe sometimes, honest is not the best policy. But still...

“So you're always honest," I said.

"Aren't you?"

"No," I told him. "I'm not."

"Well, that's good to know, I guess."

"I'm not saying I'm a liar," I told him.
He raised his eyebrows. "That's not how I meant it, anyways."

"How'd you mean it, then?"

"I just...I don't always say what I feel."

"Why not?"

"Because the truth sometimes hurts," I said.

"Yeah," he said. "So do lies, though.”

Senin, 02 September 2013

KULIAH PERTAMA - galauan pertama of the month


Semua orang pernah merasa khawatir. Faktanya, setiap orang pernah mengalami gangguan psikologis. Masalah kesehatan psikologis, tergantung pada kesehatan biologis, psikologis dan sosial. Kesehatan psikologis tidak hanya memengaruhi individu tsb, tetapi juga individu-individu dalam kelompok sosialnya.

"There is no health witouth MENTAL HEALTH!! " - WHO

Itu adalah secuplik kuliah gue hari ini, sepotong. Emang sengaja gue cuplik sedikit aja. Bukan. Bukan karena gue nggak merhatiin, tapi emang ya kepengen aja nyuplik cuman segitu. Karena psotingan gue kali ini emang cuman pengen ngomongin soal itu. Iya, yang secuplik itu.

Serangkaian KAMABA (kegiatan awal mahasiswa baru) udah gue jalanin. Mulai dari padus-padusan, OKK, PSAU sampe PSAF. Dan hari ini, Senin 2 September 2013 gue mulai kuliah perdana gue. I'm so excited, tadinya. Tapi setelah melalui beberapa rangkaian kuliah. (Hari ini gue ada 3 kuliah. pertama kuliah umum yang bareng2 satu angkatan, materinya ttg yah.... pengantar gitu. kedua, gue masuk ke kuliah sejarah psikologi. dikelas ini gue mulai agak kerasa syndrom ngantuk. dan beberapa kali tenggelam dalam rasa kantuk. dan materi yang diterangkan pun bagai barisan karnaval yang lewat : udahgituaja. Ketiga, gue ada materi penulisan ilmiah. yang kebetulan dosennya nggak bisa, dan pake dosen pengganti) Gue malah disergap perasaan khawatir.

Oke lah, motivasi gue naik berkali-kali lipat ketika dipaparkan berbagai fakta mengenai ke-psikologi-an di Indonesia. Yang faktanya memang Indonesia sangat butuh banyak psikolog, atau at least orang yang ngerti psikologi. That means, gue, kita para mahasiswa psikologi bakal dibutuhin oleh Indonesia. Which mean, kita nggak mungkin useless belajar psikologi di UI pula. Gue juga bakal seneng banget ketika gue bisa bermanfaat buat orang lain. Overall, kuliah pertama is good. It's build my mood or my spirit or apa aja lah. It makes my day.

Tapi di materi kuliah yang kedua mulai muncul masalah. Sejarah, adalah materi yang paling gue hindari setelah matematika. And that's mata kuliah wajib yang gue harus ambil dan harus lulus -dan kalo pengen IPK bagus, berati IP matkul ini juga wajib bagus. Intro-nya emang masih enjoyable, gue masih bisa nyimak. Karena belum terlalu ke-sejarahsejarah-an. Tapi nyampe intinya, gue mulai gusar, pasalnya : kantuk nggak bisa tertahan lagi, walhasil sempet gue beberapa kali tertidur. And that's bad. Extremly bad. Wich also mean, that's not good. What's make me so worried is.... gue susah buat merhatiin dosen yang ngajar -faktor ngantuk, juga susah nyatetnya karena slidenya cepet. Itu berarti gue harus ada buku pegangan, yah itu pun kalo gue bisa nahan ngantuk ketika belajar itu buku.  Tapi sebelum kejauhan ngimpi punya bukunya, ternyata bukunya itu.... Introduction to the History of Psychology by B. R. Hergenhahn seharga £57.94

Kalo lo nggak tau berapa rupiah, intinya itu buku mahal banget. Iya, banget. Katakanlah satu juta. Buat satu mata kuliah. Iya. Segitu. Enggak. Gue nggak ngarang. Enggak. Gue nggak sanggup beli. Bonyok pun gue pikir bakal mikir beberapa kali buat ngebeliin gue itu buku. Serius. Kapan coba gue becanda?!

Mata kuliah yang ketiga di hari ini-itu, penulisan ilmiah. Dosennya -seperti tadi udah dibilang- berhalangan hadir, jadi make dosen pengganti yang gue nggak terlalu suka. Ya, secara harfiah gue nggak pernah bener-bener suka sama seseorang sih. Nggak suka bukan berarti gue benci, apalagi membantah setiap ilmu atau teori yang beliau kemukakan loh ya. Iya. Juga, mata kuliah ini gue agak ngerasa khawatir, karena gue dituntut berpikir  secara PARSIMONI, sesuai law of thought, logic dan obyektif. Sedangkan, as you know pikiran gue acak, abstrak dan berantakan. it seems impossible.

But, i believe... impossible is nothing (quotes by adidas) Impossible yang dikatakan orang-orang itu, karena malas, karena takut gagal, karena khawatir salah, karena tak berani memulai, karen takut terhenti di jalan dan DIKATAI gagal. Impossible sering berarti pelarian dari keharusan untuk berusaha keras, berjuang sekuat tenaga, bermimpi setinggi langit dan impossible sering kali menjadi kedok untuk orang-orang yang menertawakan usaha orang lain serta orang orang yang menertawakan dirinya sendiri.

Gue takut, that's fine. Gue berani, that's better. So, apapun masalahnya, seberapapun beratnya, sebagaimanapun rumit dan kompleksnya.... gue janji buat terus berusaha.

Sebagaimanapun gue terseok-seok karena kekurangan peralatan penunjang. Sebagaimanapun gue kewalahan karena masalah pribadi gue sama beberapa pelajaran. Sebagaimanapun susahnya gue buat menyesuaikan diri dengan atmosfir jakarta (yeah i mean Depok) Seberapapun, sebagaimanapun alasan-alasan itu akan membuat gue mengeluh. Gue akan terus berusaha. I'll never give up. I'm not a quitter. I'm a climber. 

"10-20 tahun mendatang. Anda akan lebih menyesali apa yang tidak Anda lakukan dibanding apa yang anda lakukan."

Sabtu, 24 Agustus 2013

Cinta, bahasa tanpa huruf atau suara

Kalo kita mepelajari cinta dari membaca buku-buku Khalil Gibran, yang akan kita dapatkan adalah pengetahuan tentang cinta serta liku-liku yang panjang tidak habis-habisnya.

Lalu cinta itu apa? Cinta itu bukan liku-liku, cinta itu sebuah fragmen kehidupan, cinta itu bukan gula-gula.

Cinta itu... kita tidak bisa menjelaskan dan mendefinisikannya. Masuklah ke dalamnya, Anda akan menjadi cinta itu sendiri. Anda akan menceritakan diri Anda yang kasmaran dengan lancar. Cinta itu bercerita dengan bahasa tanpa huruf, tanpa suara, bahkan dengan bunga, dengan rumah, dengan bahasa apa saja. Yang penting orang tahu itu adalah bahasa cinta yang bisa dimengerti oleh semua makhluk.

Jumat, 23 Agustus 2013

WIN

Let me tell you something you already know. The world ain't all sunshine and rainbows. It's a very mean and nasty place and I don't care how tough you are it will beat you to your knees and keep you there permanently if you let it. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain't about how hard ya hit. It's about how hard you can get it and keep moving forward. How much you can take and keep moving forward. That's how winning is done! Now if you know what you're worth then go out and get what you're worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain't where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain't you! You're better than that! 

Minggu, 04 Agustus 2013

Ayahku

Ah, ayahku. Dia orang yang luar biasa. Aku kagum padanya. Tentu saja, seperti jutaan anakn lainnya. Tapi, aku bukan orang yang fanatis, aku rasa dia juga begitu. Terkadang kami saling berselisih pendapat dan aku jarang sekali memenangkan argumenku. Aku belajar banyak soal keras kepala-darinya.

Dia orang yang sangat sering memberiku kultum,yang tidak ahanya tujuh menit tentu saja. Ketika aku terlambat sholat berjama'ah, ketika aku lebih keras abernyanyi daripada membca al-qur'an, ketika barang-barangku berserakan tidak tertata, ketika aku berangkat ke sekolah dengan terburu-buru (hal yang juga kupelajari darinya). Serta hal lain, yang tak jarang dia pun melakukannya. Sampai-sampai aku gemas ingin sekali ingin memberinya kultum. Tapi tak pernah kulakukan.

Tentu saja dia bukan makhluk yang sempurna, dia melakukan banyak kesalahan. Namun, aku selalu berusaha "mendengar apa yang dikatakan, bukan melihat siapa yang bicara" Apapun yang ia katakan, sarankan dan nasihatkan kepadaku adalah hal-hal yang baik dan untuk membuatku lebih baik. Dia orang yang baik, bukan?



Entah, apakah dia memiliki ayah sebaik ayahku.
Yang kuyakini, ayahku adalah orang yang baik. Dan Tuhan Maha Baik menjadikan aku bagian dari keluarga ayahku.

Aku

Aku? Entah, aku tak begitu tahu apa yang orang lain tau tentangku. Mereka punya kacamata yang berbeda-beda. Mereka melihatku dari arah, waktu dan kondisi yang berbeda. Ketika kulontarkan pertanyaan "menurutmu, aku ini orang yang bagaimana?" Pernyataan panjang lebar mereka sampaikan, yang terkadang membuatku tidak mengenali diriku. Dari mata mereka.

Aku bukan orang jahat. Aku bisa pastikan hal itu. Setidaknya, dari kacamataku. Aku diajari untuk tidak menjadi jahat. Dan aku tidak pernah belajar untuk berbuat jahat. Ketika orang lain menganggapku jahat, mungkin aku sedang berbuat kesalahan. Namun, aku berjanji tidak akan pernah belajar untuk menjadi jahat.

Aku orang yang naif. Aku suka pemandangan yang indah, lingkungan ayang bersih, alam yang subur, air yang jernih, angin yang sejuk, pohon yang rindang, awan yang teduh dan matahari yang cerah. Namun aku aorang yang naif. Aku masih melanggar banyak budaya "membuang sampah pada tempatnya." Aku bukan pecandu pelanggaran, tapi aku cukup sering melanggar. Aku suka keindahan, tapu aku mengindahkan lingkungan sekitarku. Kamarku, adalah lingkungan yang aku jarang sekali melihatnya indah dan rapi.

Al\ku orang yang cerewet dan pendiam di saat yang bersamaan. Aku orang aneh paling wajar yang pernah kukenal. Aku orang yang jauh lebih baik dari diriku. Ya. Aku tahu aku lebih baik. Aku selalu menjadi lebih baik dari diriku dan akan seterusnya begitu.


Aku.

Romansa Sepasang Cinta


Ini dari marunnya langit-langit hati,
Nan sesak romansa
Dansa sepasang cinta dipelataran purnama
Disoroti sinar anggun melingkari,
Senyum-senyum sarat arti
Ada yang bertemu disetiap kerling mata
Ada rindu disetiap segaris senyum
Ada pesan disetiap cinta yang mengudara
Kini ia membiru, hingga kelabu
Pelan, namun pasti ia terjatuh bersimpuh
Entah mengapa semua menepi
Ada yang sendiri
Yang sendiri itu berdiri dengan lutut
Mematut diri pada kediaman yang bisu
Sedih ditingkah sendu bertamu
Disambut rindu
Kini t’lah berganti tokoh utama
Pun alurnya
Karena entah mengapa semua menepi
Tirai disingkap dan digeser
Ada yang sendiri
Yang sendiri itu berdiri dengan lutut di bawah janggut
Kepala bersandar,
Pada tunduk dan kaki meja
[Budhe Nunu 2012]

Selasa, 30 Juli 2013

KITA COCOK!

Kamu bisa nulis. Aku bisa baca. Kita cocok. Serasi. Cie

Kamu pandai masak. Aku pinter makan. Kita cocok. Serasi. Cie.

Kamu suka deskripsi-penjelasan- Aku suka narasi-cerita- Kita emang udah cocok.

Kamu suka film, aku suka kamera.
Kamu tertarik sama lukisan, aku tertarik sama kuas.
Kamu ringan bertanya, akutak keberatan menjawab.
Kamu selalu terlihat bahagia, aku selalu terdengar ceria.
Kamu nggak suka digantung, aku nggak suka bergantung.



Kamu akan jadi wanita dan aku akan jadi pria.
Wanita ditakdirkan berpasangan dengan pria.


Aku nggak bermaksud apa-apa, cuman....
Kadang, takdir emang udah keliatan tanda-tandanya.

Jumat, 26 Juli 2013

Ini keluargaku, dan kisah kami

Jam pagi kami, tidaklah terlalu pagi. Pukul empat lewat tiga puluh menit. Cukup pagi memang, untuk orang yang suka bermalas-malasan. Ya, aku. Kami tergolong keluarga yang fleksibel soal waktu. Ya, seperti karet. Terkadang tepat waktu, tak jarang terlambat, dan jarang datang lebih awal. Namun ayahku -aku memanggilnya bapak- adalah orang yang disiplin. Sangat disiplin. Kecuali soal waktu, tentu saja.

Tidak, kami bukan keluarga militer. Bukan juga keturunan kesekian dari keluarga militer. Kami, hanya warga sipil biasa. Dalam silsilah keluarga ayahku, hanya kakekku lah yang sempat mengenyam pendidikan militer, hampir ikut berperang, namun tidak mendapat kesempatan. Usianya saat itu delapan tahun, sedangkan syarat mutlak agar bisa dikirim menjadi tentara adalah sembilan tahun. Ia adalah atlet yang hebat, pelompat tinggi yang lebih hebat, dan pejalan kaki yang luar biasa hebat. Setidaknya, begitulah menurut cerita yang tidak pernah ia lupa untuk diceritakan padaku, dan seperti biasa akan diakhiri dengan kalimat tanya "koe ora kepengin dadi tentara?" yang berarti "Kamu tidak ingin menjadi tentara?" Dan aku hanya menggeleng, tersenyum takzim.

Sedangkan silsilah dari keluarga ibuku, kesemuanya hanyalah petani biasa. Bukan tentara maupun pegawai pemerintahan, bukan juga anggota keraton. Keluarga petani yang cukup bahagia dengan kesedarhanaan hidup. Bertani untuk makan dan makan untuk bertani.

Keluarga kami tergolong keluarga yang mampu, namun tidaklah serba berkecukupan. Orang tuaku, ayah dan ibuku hanyalah guru SD, PNS, kuli pemerintah. Tiap bulan mereka mengharap bayaran dari pemerintah, dari uang rakyat. Meskipun tergolong mampu, keluarga kami belum bisa berdiri sendiri. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana yang didirikan oleh ayahku, kepala keluarga kami. Didirikan di atas tanah milik kakek buyutku, Dullah Kadir.

Nama yang berhasil -dengan cepat- membuat orang-orang dilingkunganku mudah mengenaliku. Konon, kakekku yang satu ini memiliki banyak tanah. Masa mudanya ia habiskan dengan menjadi pengusaha, cukup sukses pada kala itu. Lebih sukses dibanding ayah dari ayahku, yang merupakan menantu dari kakek buyutku. Maka para tetangga akan lebih familiar dengan sebutan "putune Mbah Dullah Kodir" dibanding "putune Mbah Sasmitareja" Meskipun kesemuanya benar. Aku cucu mereka.

Ayahku adalah cucu favorit mbah Dullah Kodir dan istrinya, ini tak lepas dari fakta bahwa ayahku dibesarkan oleh mereka. Nenekku -yang tak lain adalah anak sulung mereka dan ibu dari ayahku tentu saja- jatuh sakit setelah melahirkan ayahku pada hari kedua lebaran. 'Idul Fitri. Dan mungkin, ini juga yang mendasari ayahku untuk merawat kakek dan neneknya hingga usia senja, dan terbenam. Tidak, ia bukan orang yang durhaka, tentu saja ayahku telah membangunkan sebuah rumah yang jelas jauh lebih layak (dibanding ketika ayahku kecil) untuk kedua orang tuanya dan adik adiknya. Sepuluh bersaudara.

Bukan kehidupan yang mudah tentu saja. Setidaknya dibandingkan dengan hidupku, dengan tiga saudara, dan makanan serta tempat tinggal yang berkali-kali lipat lebih layak. Begitu banyak lipatan, hingga terkadang aku lupa untuk mengucap syukur atas yang aku miliki-yang mereka berikan, gratis.

Aku terkadang lupa, bagaimana ayahku -ketika kecil- harus memakai rok, karena kedua kakaknya adalah perempuan dan harga celana tidaklah semurah segenggam padi. Tentu saja ayahku menangis, ditertawakan oleh teman-temnnya, anak-anak lain, dan bahkan orang dewasa disekitarnya. Itu adalah kali pertama ayahku memakai pakaian lengkap, berseragam, itu adalah kali pertama ia bersekolah. Sebelum ia bersekolah, celana dan rok tidaklah penting. Setidaknya, tidak lebih penting dari sepiring nasi. Maka saat itu juga, anak kecil itu tak mau lagi berangkat sekolah. Kecuali memakai celana. Aku terpingkal-pingkal, terbahak-bahak ketika diceritakan kisah ini oleh nenekku, aku tertawa keras sekali. Kemudian menangis.



bersambung....

Kamis, 11 Juli 2013

Anak yang tidak kekanak-kanakan


Saya suka menjadi anak-anak. Selalu menyukai anak-anak. Berharap bisa kembali menjadi anak-anak. Dan tetap menjadi anak-anak.

“The creative adult is the child who survived”

Saya suka quote diatas. Saya sangat suka. Saya bukan mengatakan bahwa qoute tadi benar, atau paling tepat. Tapi, saya sependapat. Dan saya menyukainya.


Entah mengapa, tidak semua orang menyukai anak-anak. Padahal anak-anak (ketika mereka masih menjadi anak-anak) adalah salah satu makhluk yang sangat lucu, imut, ngegemesin yang pernah Tuhan ciptakan di muka bumi. Contoh deh, pada tau semua kan? Yang namanya Nabilah Ratna Ayu, atau Ayu-san, atau Nabila JKT48? Nah iya~

Saya paham kalau anda paham bahwa saya hanya bercanda. Atau jangan-jangan.... anda paham bahwa saya paham kalo anda paham bahwa saya hanyan bercanda??? Ah. Anda pasti paham.


Namun yang perlu anda pahami adalah, Nabilah Ratna Ayu (atau nama google-nya Nabila JKT48) adalah benar seorang anak-anak. Anda yang mengaku fans beratnya JKT48 saya pikir lebih paham. Yah, walaupun sudah tidak terlalu anak-anak memang. Saya yakin antara untuk dijadiin adek atau pacar, para cowok tentu akan lebih memilih untuk menjadikannya pacar. Tapi sudahlah saya paham, anda tentu paham bahwa yang saya maksud anak-anak disini adalah yang benar anak-anak. Dimana apabila anda menemuinya ada perasaan ingin nyubit (berlaku buat nabila), ingin nggendong (gue sendiri ngimpi nggendong nabila), ingin ngajakin main pokoknya (main sama nabila? Oh god!) Ah, susah ternyata. Simpelnya gini, anak yang saya maksud disini adalah anak-anak dan kecuali nabila.


Anak-anak adalah pelawak paling handal dimuka bumi. Ya. Maksud saya juga, penghibur. Entahlah, pelawak atau penghibur saya pikir tidak kedengaran begitu baik. Atau mungkin bahasa yang lebih trendy ; mood booster atau smile maker, atau apalah intinya mereka dengan mudahnya dengan naturalnya dapat menciptakan sesimpul senyum dari bibir kita –para mantan anak-anak.


Kenapa? Well, itu pertanyaan yang cukup sulit. Mengingat saya sudah jarang belajar. Tapi saya akan coba menjawabnya –dengan susah payah mungkin. Yakan memang tidak sesimple cap-cip-cup-kembang-kuncup-mekar-indah-dipetik-danmati. Tidak sesimpel milih a,b,c,d,e juga. Sulit. Hampir sesulit milih antara kamu atau Nabila. #OKENGACO


Jadi, menurut saya they can make us smilling easyly because they do it, honestyly. Seperti yang saya katakan, akan sulit  menjawabnya diantaranya adalah karena bahasa inggris saya berantakan. Tapi menut pendapat saya itu, karena mereka melakukan apapun dengan jujur, ikhlas, dan apa adanya.


Mereka tertawa saat mereka senang, tersenyum dan terkadang berlompat-lompat, bergelantungan di pohon, mainan ekor. #okengaco ini monyet.  Mereka menangis saat sedih, mereka cemberut ketika sebel, tidur ketika ngantuk dan makan ketika lapar. Right?


There’s no drama in their life. No fake smile, fake tears and fake face (ya mana ada anak kecil kepikiran operasi plastik). Kita sebagai mantan anak-anak tidak seharusnya meninggalkan budaya baik ini. Jujur. Tidak terlalu banyak drama, tidak terlalu banyak berpura-pura, tidak terlalu banyak kebohongan. 

“If you say the truth, you don’t have to remember anything”

Entahlah, intinya seperti itu. Saya selalu meragukan kemampuan ber-english ria saya. Ketika anda bicara jujur, ada tidak perlu mengingat apapun.  Oke, disini saya tidak menghakimi, saya tidak menuduh bahwa anda seorang pembohong. Tapi saya hanya bertanya. Sudah berapa puluh-ratus-ribu kali anda berbohong dalam hidup anda. Saya tidak mendengar jawaban anda, saya tidak akan tahu, jangan khawatir, kebohongan anda masih aman.


Namun, inilah yang tidak kita miliki dari anak-anak. Mereka tanpa bersusah payah, bertindak jujur. Sedangkan kita, menggunakan alasan-alasan murahan untuk berbohong, bahkan sempat mencari pembenaran dengan berkata “ini yang terbaik”.
Kebaikan yang diselimuti keburukan, seperti emas yang direndam dalam kolam kotoran. Siapa yang mau menerimanya? Percayalah, yang terbaik adalah kebenaran yang diselimuti kebenaran.


Oke, saya pikir saya sudah terlalu banyak bicara. Terlalu banyak membahas kita, dan agak lupa soal anak-anak.

 “What can we learn from children is.... they dare to dream, they dare to love and not afraid of being hurt, they trust each other, they’re creative, they bring happines to each other, and they cry.”


Dan hal yang perlu anda ingat adalah, anda tidak perlu berpura-pura ketika anda telah dewasa. Anda tidak perlu takut untuk mencintai karena khawatir akan tersakiti, anda tidak perlu takut untuk bermimpi karena anda pikir itu tidak realistis.

“Mimpi tidak perlu realistis, usaha perlu realistis.”

Anda tidak perlu sok kuat, berlagak tidak bersedih, yang akhirnya tumpah dalam kedepresian yang berkepanjangan. Jika memang bersedih, air mata anda tidak lah semahal itu untuk ditumpahkan. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi menangis juga tidak menyebabkan anda terancam penyakit jantung, stoke dan lain-lain. Jika anda ingin masalah anda selesai, ya hadapi. Anak kecil pun tahu.



Yang mereka tidak tahu, dan tidak miliki dari kita adalah.... Tanggung jawab. Mereka melakukan apapun, semau mereka, sesuai keinginan mereka, dengan leluasa, karena mereka tidak dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Mereka tidak dihadapkan pada harus memilih antara realististis atau idealis, karena mereka tidak dituntut untuk bertanggung jawab nantinya. Dan kita harus.

Dan ketika kita tidak memedulikannya, mereka (orang-orang dewasa lain) akan menganggap kita kenak-kanakkan. Dan ya.


Hal yang anak-anak miliki, mereka bersifat kekanak-kanakkan. Dan kita? Semoga saja tidak.






Untuk semua anak-anak. Yang tanpa drama, tanpa pura-pura, kreatif dan bijaksana.
Sekian.

Jumat, 05 Juli 2013

#sportquotes3

"Ask yourself if what you're doing today is getting you closer to where you want to be tomorrow"

"you don't need a runner's body to run. but, you do need to run to get a runner's body"

"you don't have to go fast. you just have to go".

"a goal is a dream with a deadline"

"NIKE : just do it. Even you suck at it"

"Sometimes you don't get what you wish for. But, you can get what you work for"

 "you do exercise because you love your body, not because you hate it"

 

#SPORTQUOTES2

Instead of saying "I don't have time" try saying "it's not a priority," and see how that feels.
#SPORTQUOTES 

Kamis, 13 Juni 2013

Orang tua kita mengajari lebih

Pernah nggak kamu merasa sendiri?
Benar-benar sendiri..
Seperti dahulu, ketika kita masih kecil dan kedua orang tua kita harus pergi sehingga kita harus tinggal dirumah, dan sendirian. Hingga larut malam, orang tua kita belum juga pulang. Sedangkan diluar sana hujan, dan angin berhembus sangat kencang. 
Kita yang masih sangat kecil, takut listrik akan padam. Kita selalu membuka tirai jendela semenit sekali, berharap segera tampak lampu kendaraan yang membawa kedua orang tua kita. Namun bunyi kendaraan, ataupun sorot lampu kendaraan tak juga muncul. Yang ada hanya suara rintik hujan yang membentur genteng, serta tersangkut didedaunan. Yang ada hanya cahaya kilat, diikuti petir yng menyambar, sehingga kita cepat-cepat menutup pintu dan masuk kedalam tumpukan selimut.
Dan akhirnya terlelap, hingga akhirnya dipagi hari ibu membangunkan kita. Kita marah-marah karena kejadian semalam, namun ibu hanya tersenyum. Dan hanya tersenyum.

Pernah nggak kamu merasa kecewa?
Kecewa, bahkan kesal…

Seperti dahulu, ketika ayah terlambat menjemput kita. Padahal hari sudah sangat sore, dan PR kita masih banyak. Ayah membuat kita menunggu sangat lama, terlalu lama untuk ukuran anak sekecil kita waktu itu. Hingga kita adalah orang terakhir yang menunggu jemputan. Hingga guru-guru bahkan telah pulang kerumah mereka masing-masing. Hingga penjaga sekolah berkali-kali menatap kita, dan hanya tersenyum. Kecewa dan kesal karena orang yang kita tunggu-tunggu tak kunjung datang. Dan ketika ia datang, ia bahkan tidak tersenyum. Yang ada hanya kerutan di keningnya, yang kita tak tahu apa artinya. Kita belum tahu apa artinya. Kemudian kita segera menghampiri ayah, dan tak sekalipun menjawab pertanyaan-nya. Dan ia pun kemudian diam.

Pernah nggak kamu merasa sedih?
Sedih, bahkan terluka…
Ketika orang yang benar-benar kita cintai, pergi meninggalkan kita. Meninggalkan kita. Seolah-olah, kita adalah sesuatu yang tidak diperlukan lagi. Seolah-olah kita telah melakukan hal yang sangat buruk, sehingga ia harus pergi dan meninggalkan kita. Padahal kita masih sangat mencintainya. Padahal kita sangat menyayanginya. Namun, saat kita menangis karena terluka ibu hanya tersenyum. Lagi-lagi hanya tersenyum seolah-olah tak mau mengerti perasaan kita. Tak mau tahu, dan terus saja hanya tersenyum.


Saya tau kamu pernah, saya pikir kita semua pernah. Atau setidaknya sebagian dari kita pernah.


Seperti kita tahu, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama kita dan orang tua adalah guru pertama kita. Orang tua kita mengajari banyak hal, lebih banyak dari siapapun, guru manapun.

Orang tua mengajari kita untuk tidak  menyerah meski kita jatuh dan mungkin terluka. Dia terus menggenggam tangan kita. Hingga entah berapa ribu kali kita tertajatuh dan toh akhirnya kita dapat berdiri lagi dan hasilnya bisa berjalan, hingga saat ini.

 Orang tua bahkan mengajari kita cara mengenali diri kita sendiri. Mereka mengajari kita berbicara, meski tampaknya mustahil karena apa yang keluar dari mulut kita hanya celotehan, tawa dan tangis. Bagaimana mungkin kita bisa bicara seperti mereka???
Tapi mereka tetap saja melakukannya, mengajari kita, "memanggil" kita. Karena mereka tahu dan percaya, kita bisa, seperti jutaan anak lainya, kita pasti bisa. Dan akhirnya, kita bahkan berbicara bahasa lain yang tidak mereka kuasai. Inggris, Jepang, atau mungkin.... Korea?


Orang tua kita. Ya. Mereka tahu banyak hal.
Bukan soal ilmu pengetahuan atau sains atau pemansan global. Mereka tahu banyak hal, soal dunia, soal kehidupan, soal kita. Mereka hidup jauuuh lebih lama dari kita, dan membuat kita tetap hidup. Mereka belajar jaaauuuhh lebih dulu daripada kita semua, dan mengajari kita cara untuk belajar.

Mereka tahu dunia tidak selalu terang, tak selalu cerah, akan datang waktu malam, dan terkadang langit tertutup mendung.


Mereka tahu, bahwa dunia tak selalu lembut. Adakalanya ia keras. Tak seperti yang kita inginkan, tak seperti yang kita harapkan. Tak seperti yang kita duga. Bahkan sama sekali tak terduga. Sama sekali tak seperti yang kita harapkan, dan sama sekali tidak kita inginkan.


Mereka tahu itu, dan mereka tahu itu akan berlalu.


Mereka tahu esok paginya kita akan terbangun dan seolah-olah rasa takut, kecewa, dan kesedihan itu hilang. Puffttt…. Hilang, dan menguap, begitu saja. Dan kita masih, baik-baik saja.


Mereka, bisa saja mengajak kita dan tidak meninggalkan kita sendirian di rumah dengan resiko kita akan berbuat hal buruk saat mereka sedang menjani urusan yang penting –karena umur kita yang belum mencukupi- atau dengan resiko kita sakit karena terkena angina malam, atau kelelahan dan esok paginya tak dapat bersekolah.

Mereka mengajari kita bersabar lebih dari batasan kita di usia kita saat itu dengan kita harus menunggu lebih lama, sangat lama –meskipun kita semua tau, mereka pasti punya alas an yang sangat kuat, mungkin sangat penting, sehingga mereka tidak bisa datang tepat waktu.

Mereka mengajari kita mengikhlaskan, menerima, dan menghadapi kenyataan, kenyataan bahwa apa yang kita miliki bukanlah milik kita sendiri. Dari senyum ibu, ia berkata "nak ayahmu tidak pergi kemanapun, dia hanya berpindah milik, syurga sudah lama ingin bertemu dengan beliau"  


Mereka mengajari kita untuk tidak takut, untuk menjadi pemberani, untuk menjadi penyabar, untuk mengikhlaskan dan untuk menjadi manusia yang selalu bisa “baik-baik saja”


Itulah mereka, mengajari kita tanpa mengajari. Itulah mereka, yang mengajari kita secara tidak langsung. Bahkan mungkin, tanpa mereka sadari. Karena ada Tuhan pada diri mereka, Tuhan mengajarkan kita hidup melalui mereka sebagai perantara, orang tua kita.


Untuk orang tuaku tercinta.
Ibu. Ibu. Ibu. Dan Ayah.
Aku selalu menyayangi kalian.

Selasa, 11 Juni 2013

#SPORTSQUOTES

“Running is a mental sport, more than anything else. You're only as good as your training, and your training is only as good as your thinking.”

JENDELA RARA

oleh ASMA NADIA


Sebuah rumah imut dengan dinding hijau berlumut, jendela-jendela besar yang menjaring matahari dan halaman mungil berumpun melati


Apa lagi?
 

Rara, anak perempuan berusia sembilan tahun itu terus menggambari belakang kertas bungkus cabai, yang diambilnya dari los sayur Yu Emi. Sebuah pensil pendek terselip di jarinya. Mata Rara masih memandangi gambar rumah mungil, yang menjadi impiannya. Mulut kecilnya menyumbang senyum. Manis.


“Mak, kapan kita punya rumah?”
 

Sejak ia mengerti arti tempat tinggal, pertanyaan itu kerap disampaikannya pada Emak. Mulanya perempuan berusia empat puluh limaan, yang rambutnya beruban di sana-sini itu, tak menjawab. Baginya tak terlalu penting apa yang ditanyakan anak-anak. Kerasnya kehidupan membuat ia dan lakinya, hanyut dalam kepanikan setiap hari, akan apa yang bisa dimakan anak-anak esok. Maka pertanyaan apapun dari anak-anak lebih sering hanya lewat di telinga.
 

“Mak, kapan kita punya rumah?”
 

Kanak-kanak seusia Rara, tak mengenal jera atau bosan mengulang pertanyaan serupa. Dan kali ini, ia berhasil mendapat perhatian lebih dari Emak. Sambil menyandarkan punggunggnya di dinding tripleks mereka yang tipis, Emak menatap sekeliling. Matanya menyenter rumah kotak mereka yang empat sisinya terbuat dari tripleks. 

Hanya satu ruangan, di situlah mereka sekeluarga, ia, suami dan lima anaknya—sekarang empat—memulai dan mengakhiri hari-hari. 
Tak ada jendela, karena rumah-rumah di kolong jembatan jalan tol menuju bandara itu terlalu berdempet. Bahkan nyaris tak ada celah untuk sekadar lalu lalang, kecuali gang senggol yang terbentuk tak sengaja akibat ketidakberaturan pendirian rumah-rumah tripleks di sana.
 

Beberapa yang beruntung mendapatkan tiang rumah yang lebih kokoh,langsung dari beton tebal yang menyangga jalan tol di atas mereka. Kamar mandi? Ada MCK umum yang biasa mereka pakai sehari-hari. Cukup bayar tiga ratus rupiah, sudah bisa mandi puas.
 

Belasan tahun mereka tinggal di sana. Tidak perlu bayar pajak, hanya uang sewa setiap bulan yang disetorkan ke Rozak, Ketua RT mereka, sekaligus orang paling berkuasa di perkampungan sini, juga uang listrik ala kadarnya. Memang semua sangat sederhana, tapi baginya tempat tinggal ini tetap…
“ini rumah kita, Ra!”


Rara menggeleng. Ekor kuda di kepalanya yang kemerahan, karena sering ditempa garang matahari bergoyang beberapa kali. Di benaknya bermain bayangan tumah tinggal yang diimpikannya:
 

Sebuah rumah imut dengan dinding kehijauan berlumut,
Jendela-jendela besar yang menjaring matahari dan halaman mungil berumpun melati
 

Emak tampak kaget dengan tanggapan anaknya.
 

“Rara mau punya rumah yang ada jendelanya, Mak!”
 

“Bisa. Besok kita minta abangmu buatkan jendela satu, ya? Kecil saja tak apa, kan?” ujar Emak sambil tertawa. Kemana jendela itu akan menghadap nanti? pikirnya, ke rumah Mas Dadang tetangga merekakah? Apa iya mereka mau diintip kegiatannya setiap hari?
 

Tapi siapa tahu. Paling tidak hal itu mungkin bisa membuat Rara senang. Kalau dia menolak mengamen di perempatan lampu merah nanti, apa tidak repot?
 

Anaknya lima orang. Yang tertua jadi tukang pukul di tempat Mami Lisa, kompleks pelacuran dekat tempat tinggal mereka. Anak kedua, entah apa kerjanya, kadang pulang, lebih sering menghilang. Anak yang ketiga perempuan, sebetulnya dulu rajin sekolah, apa daya ia tak sanggup lagi menyolahkan si Asih. Jadilah gadis lima belas tahun itu drop out dari sekolah, dan sekarang kabarnya sudah jadi anak buah Mami. Entahlah. 

Anaknya yang keempat, bocah laki-laki, selisih dua tahun dari Rara, tewas dua bulan lalu, dengan luka di bagian leher dan anus. Mungkin jadi korban laki-laki gendeng yang suka menyantap anak-anak kecil.
Rara anaknya yang bontot. Keras kepala dan punya keinginan kuat. Sekarang masih sekolah di madrasah ibtidaiyah, itu pun karena kebaikan hati kakak pengajar di sana, ia tak harus membayar sepeser pun. Syukurlah.
 

“Jendelanya bisa masuk matahari, enggak, Mak?”
 

Rara menggoyang bahu Emanknya. Tapi kali ini perempuan yang melahirkannya itu hanya menghela napas berat dan meninggalkan Rara dengan bayangan jendela-jendela besar yang menjaring sinar matahari.
 

Di Madrasah, sorenya. “Kata Mak, rumahku akan punya jendela!”
Rara berbisik ke telinga teman sebangkunya. Di sekitarnya, kawan-kawan sedang mengikuti surat Al-Ma’un yang diucapkan Kak Romlah.
 

“Yang bener, Ra?”
 

Dua bola mata bulat milik Inah membesar. Ia ikut senang jika impian Rara terwujud. Sejak dulu Rara sering bicara soal keinginnannya memiliki rumah kecil dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalamnya.
 

“Kita bisa hemat listrik! Enggak usah idupin lampu lagi kalo siang!”
 

Rara menambahkan. Giginya yang kecil-kecil tampak seiring senyumnya yang lebar.
 

“Bisa belajar di sana dong?”
 

“Iya! Enggak harus ke gardu dulu untuk baca buku. Kan udah terang?”
 

Senyum lebarnya terkembang lagi. Inah tampak ikut senang.
 

“Aku mau minta ibuku bikin jendela juga, ah!”
 

“Aku juga!”
 

“Apa? Jendela di rumah Rara?”
 

“Gue juga deh. Mau bilang Bapak!”
 

“Enak ada jendela!”
 

Tiba-tiba suasana kelas riuh seperti pasar. Berita Rara yang rumahnya akan punya jendela menyebar luas. 

Ternyata apa yang diinginkan gadis kecil itu juga menjadi mimpi anak-anak yang lain.
“Jendelaku nanti paling buesar!”
 

Ipul, anak salah satu karyawan Mami Lisa, mengakhiri obrolan mereka sore itu sepulang dari madrasah.
——
“Jadi bikin jendela, Ra?”
 

Bang Jun, mencolek pipinya. Mata laki-laki berusia dua puluh tahun itu mengamati hasil coretan adiknya.
“Udah malam kok belum tidur?”
 

Rara tidak menjawab. Tangannya masih asyik menari-nari di atas secarik kertas usang yang diambilnya lagi dari Yu Emi.
 

“Eh, itu gambar apa, Ra?” komentar abangnya lagi.
 

“Jendela? Kok gede banget!”
 

Rara menghentikan kegiatan menggambarnya. Bola matanya yang cokelat menatap Bang Jun yang perhatiannya terpusat pada gambar. Gadis kecil itu menganggukkan kepala. Senyumnya cerah.
 

“Jadi kan, Bang Jun bikinin Rara jendela?” kalimatnya dengan tatapan penuh harap.
 

Jun hanya menatap Emak dan Bapak yang tiduran di atas sehelai tikar using. Wajah kedua orangtuanya itu tampak letih. Pastilah. Bukan pekerjaan ringan mencomoti barang dari tempat sampah satu ke tempat sampah lain. Belum jika hasil mulung Bapak, ternyata besi-besi tua. Memang bawa untung yang lebih besar. 

Tapi berat yang dipikul juga jelas jauh dibandingkan sampah botol plastik atau barang-barang lain . Malah akhir-akhir ini cuaca makin panas saja.
 

“Bang…”
 

Rara menarik kaus oblong yang dipakai abangnya. Beberapa saat Rara dan abangnya bertatapan, dengan pikiran masing-masing yang tak terpantulkan. Tapi keheningan mereka segera buyar oleh langkah-langkah yang terdengar dari depan. Asih muncul di balik pintu. Matanya yang sayu segera saja menatap keduanya tak semangat.
 

“Masih ngeributin soal jendela?”
 

Rara tak menjawab, tangannya meraih tas murahan yang dibawa Asih. Dengan sigap, gadis kecil itu mengambil air di teko dan mengulurkan ke kakaknya. Tapi Asih yang mulutnya bau minuman keras itu menepis.
 

“Gue ngantuk. Malah tadi laki-laki yang gue temenin minumnya kuat banget. Mau nolak, engga enak sama Mami.”
 

“Bilang aja lo sakit, sih! Tadi aja gue pulang duluan. Lagian pegawai Mami Lisa kan enggak cuma elo.”
 

“Iya, tapi itu kan sama aja nolak rezeki!
 

Rara diam, mendengarkan saja percakapan kedua saudaranya. Tapi kalimat kakaknya barusan, mengusiknya untuk menimpali, “Kata guru Rara di madrasah, rezeki kan dari Allah, Kak. Bukan dari tamu!”
Kalimat lugu yang dengan cepat dipatahkan kakaknya.
 

“Ahh, anak kecil sok tau. Tunggu nanti kamu gede, baru ngerasain. Hidup tuh cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!”
 

Rara menundukkan kepala. Kakaknya dulu lembut dan baik hati. Sempat juga ngaji di madrasah seperti dia. Tapi setelah putus sekolah dan jadi karyawan di tempat Mami, gadis berkulit hitam manis itu berubah. Dandanannya makin menor. Ke mana-mana pake kaus dan celana panjang serbaketat. Omongannya juga jadi kasar.
 

Rara tahu, tidak Cuma kakaknya yang berubah. Tapi juga kakak si Inah, ibu si Ipul, dan banyak lagi. Konon mereka dulu juga anak madrasah. Tapi daya tarik rumah pelacuran, yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari madrasah terlalu menggoda. Itu jalan pintas dapat duit. Realitas masyarakat di sudut-sudut Jakarta yang bukan tidak diketahui orang.
 

Rara tercenung. Mungkin benar hidup jadi orang dewasa itu sulit, pikirnya. Mungkin itu sebabnya mereka jarang tersenyum.
 

“Ra! Kalo mau punya jendela, modal sendiri dong!” lantang suara kakaknya mengagetkan Rara.
 

“Asih!”
 

Asih yang mabuk terus bicara dan tak menggubris teguran Jun.
 

“Kebutuhan tuh banyak. Udah bagus gue sama Jun kerja. Pake buat yang lebih penting dong!” cerocos Asih, tangannya menjewer kuping Rara.
 

Rara tak gentar. Matanya yang jernih menatap lurus kearah Asih yang menyalakan rokok dan menghirupnya nikmat. Bagaimanapun Kak Asih harus tahu kalo jendela itu…
 

“Jendela itu penting, Kak. Buat keluar-masuk udara. Terus kalo siang kita enggak perlu nyalain lampu. Udah terang karena sinar matahari yang masuk!” jawab Rara tak kalah keras.
 

“Tapi banyak yang lebih penting dari jendela,” Asih tak mau kalah, “Makan kamu misalnya!” lanjutnya kesal. Bayangkan ia sudah capek-capek tiap malam, kadang lembur merelakan badannya melayani empat tamu dalam semalam. Apa adiknya itu tahu?
 

“Tapi kata Emak, Bang Jun bakal bikinin Rara jendela. Ya, kan, Bang?”
Suara Rara lirih, bercampur isakan. Jun yang melihatnya jadi tidak tega. Tangan cowok itu membelai-belai kepala adiknya. Lalu menatap Rara lunak.
 

“Iya. Tapi Rara juga ikut kumpulin duit, ya? Jangan dipake jajan! Kita perlu uang untuk beli kayu, kaca, bikin kusennya…”
 

“Dan itu mahal, tau, Ra!”
 

“Ssst… Asih!”
 

Keributan yang kemudian tak terelakkan antara Jun dan Asih membuat Rara melarikan diri ke sudut rumah. Ia berjongkok sendiri, mata cokelatnya berkaca. Bertambah-tambah perasaan gundahnya kala Bapak terbangun lantaran suara berisik yang timbul, lalu menempeleng keduanya.
Dan semua gara-gara jendela besar Rara.
 

Ahh. Rara mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Besok ia akan mengamen lebih giat. Kalau perlu sambil jual koran, semir sepatu, atau membersihkan kaca mobil-mobil yang berhenti di lampu merah. Apa saja, pikir Rara.
 

Belakangan, lelah dan air mata membuat Rara tertidur. Pikiran kanak-kanak membawanya pada impian. Malam itu Rara bermimpi menari di antara jendela-jendela besar yang mengantarkan sinar matahari kepadanya. Juga kerlip bintang-bintang malam hari.
 

Selama seminggu lebih, Rara berhemat. Ia bahkan menghemat mandi, sehari sekali, supaya bisa menyimpan tiga ratus rupiah di sakunya. Uang perolehannya ngamen dan bekerja di perempatan , tak dipakainya sesen pun untuk beli es mambo di warung, kwaci, permen, dan jajanan lain. Ia betul-betul berhemat.
 

Dan sore ini Rara pulang dengan hati melonjak-lonjak. Menurut hemat gadis kecil dengan rambut diekor kuda itu, tabungannya cukup untuk membuat sebuah jendela yang besar. Bahkan jika tidak ada halangan, lusa mungkin ia sudah bisa menatap sinar matahari menghangatkan lantai tanah di rumah mereka. Membayangkan itu, perasaan Rara makin tak keruan. Seperti meluncur dari tempat yang tinggi. Sangat tinggi.
 

“Assalamu’alaikum! Emak?”
 

Rara menghambur kearah Emak yang sedang menyapu lantai. Bohlam sepuluh watt, mengalirkan hawa panas yang merembesi baju Emak. Padahal di luar sana masih terang.
 

“Mak, sini.”
 

Rara menyeret tangan perempuan itu, memaksanya duduk di bangku kayu yang satu kakinya telah patah.
 

“Apaan sih, Ra?”
 

Emak menatap anak bungsunya dengan pandangan sedikit cemas. Apa lagi sekarang? Baru semingguan ia merasa lega, karena Rara tidak lagi mengutarakan keinginannya untuk punya jendela. Yang dikatakan bapaknya si Rara memang benar. Anak kecil enggak usah terlalu dianggap serius. Mereka kadang memang menggebu-gebu minta sesuatu. Namun biasanya, keinginan itu juga cepat menguap dan hilang dari ingatan.
Rara masih memandang Emak dengan mata bercahaya. Keriangan anak-anak terpancar di wajahnya yang oval.
 

“Mak, tebak!”
 

“Apaan?”
 

Aduh, jangan soal jendela lagi. Jangan-jangan dia minta punya dua pintu lagi? Atau kamar sendiri? Batin perempuan itu sedikit cemas.
Rara menyerahkan sejumlah uang dalam kepalannya, ke telapak tangan Emak yang basah keringat.
 

“Buat bikin jendela! Jadi kalo kulit Rara sekarang lebih gosong, bukan karena main, Mak! Tapi karena Rara kerja banting tulang buat jendela kita! Papar gadis kecil itu ceriwis.
Jendela?
 

Mata penat Emak menatap berganti-ganti, dari uang di tangannya, dan raut wajah di bungsu. Begitu terus selama beberapa saat. Sayang, Rara terlalu riang untuk memperhatikan perubahan wajah Emak. Bocah perempuan itu malah terus bicara dengan kalimat-kalimat panjang, kadang nyaris tersedak, karena kebahagiaan yang meletup-letup.
 

“Jendelanya nanti di sebelah sini, ya, Mak. Rara mau nya kayunya warna cokelat tua. Malam ini Rara mau begadang nungguin Bang Jun. Mau kasih tau modelnya. Besok pagi, biar Rara temenin Bang Jun ke toko material. Kita bisa beli kayu, terus kaca, terus…”
 

Emak tak mendengar lagi penjelasan Rara. Benaknya digayuti kejadian siang tadi, ketika Pak RT datang bersama sekretarisnya dan berbicara serius.
 

“Gara-gara Rara, semua anak di sini pada minta dibuatin jendela sama orangtuanya. Saya bukannya tidak mau mengizinkan. Tapi kan Emak tahu sendiri situasinya. Rumah-rumah saling menempel, dinding yang satu menjadi dinding yang lain. Lagi pula, kalau dipaksakan, percuma tidak akan bisa masuk sinar matahari. Kecuali kalau mau ngebor jalan tol di atas sana! Saya sebagai Ketua RT tidak bisa mengizinkan!”

Mata lelah Emak mulai menggenang. Andai saja ia bisa memantulkan pikiran di benaknya. Pastilah seperti cermin yang memantulkan dua sisi bayangan. Rumahnya dan penduduk lain di bawah kolong jembatan ini, di satu sisi. Dan rumah Pak RT, di sisi lain, dengan jendela-jendela kaca yang besar.
 


Waktu masih terisi celotehan antusias Rara. Di dekatnya, Emak masih menatapi gumpalan uang kertas dan receh di tangannya.

Senin, 10 Juni 2013

QUOTES

Hidup memang aneh. Banyak penjelasan di dalam ketidakjelasannya

Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa

Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun dapat mengisi apa yang sudah penuh

Semua perjalanan hidup adalah drama, namun lebih mengerikan. Darah adalah darah. Dan tangis adalah tangis. Tidak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu

Sabtu, 08 Juni 2013

Berbeda itu, berwarna



Hitam. Saya suka hitam. Dia selalu netral, tak pernah memihak. Saya suka hitam, ia selalu cocok dengan siapapun. Hitam selalu apa adanya, tapi juga penuh rahasia. Saya suka hitam, karena dengan hitam putih akan tampak.

Biru kental dengan aroma kebebasan. Tanpa batas seperti langit, dengan kedalaman melebihi lautan. Biru itu tenang, dan terkadang menghanyutkan. Tanpa terasa membawamu ke tempat asing, yang benar-benar baru. Saya akan sangat senng pergi menuju si biru.

Dalam pandangan mata, hijau selalu menyejukan. Segar seperti air danau, sejuk seperti hembusan angin di padang rumput. Hijau itu selalu membawa kedamaian. Saya suka hijau, karena di dalamnya terdapat kehidupan.

Putih selalu tegas, tapi juga lembut. Putih selalu tahu batas, namun juga penuh toleransi. Putih itu mengasihi seperti  lembutnya sutera, menjaga seperti kapas diatas luka. Putih itu akan menampakan kedamaian di hati. Saya suka putih, karena ia akan menunjukan batas awal dan akhir.

Oranye selalu tersenyum. Seperti kuning yang selalu ceria. Membawa kebahagiaan kepada setiap orang. Walau tak selalu diterima, kuning tak akan sedih. Seperti oranye yang tak pernah muram.

Merah itu seperti darah, senantiasa mengalir. Merah itu seperti apel, menjadi identitas kita. Merah itu berkobar, seperti api yang selalu bersemangat. Saya suka merah karena ia selalu bisa menarik perhatian.



Perbedaan itu telah ada, dan akan selalu ada. Perbedaan itu indah, seperti pelangi. Perbedaan tak pernah bermaksud menyakiti, namun orang-orang kadang menganggap perbedaan sebagai suatu keanehan, keganjilan, atau bahkan cacat.

Tak ada yang salah dengan menjadi berbeda, karena kegelapan-lah yang menjadikan terang itu tampak. Merah tak akan disebut merah jika tak ada biru. Lurus tak akan disebut lurus jika tak ada lengkung.

I love to be different.