Kamis, 16 Februari 2012

Anak Pinggiran

Aku melangkah, kakiku lelah
Aku berhenti, bersandar dibawah pohon
Pohonnya rindang, aku merasa tenang
Angin berhembus, akupun tersenyum

Seorang gadis kecil lewat didepanku
Segenggam batu kerikil ia bawa
Satu dua, empat hingga anak menyusul gadis tadi
Kesemuanya menggenggam kerkil


Jalan yang kulalui berlubang
Aspalnya rusak dimakan para pejabat-pejabat korup
Anank-anak itu, dengan senyum tersimpul
Menumpahkan kerikil di lubang-lubang jalan

Dan mereka pergi...

Sebuah kendaraan, becak beroda tiga
Berlalu didepanku, membawa penumpang
Seorang ibu dan anaknya
Berdandan rapih, bak ingin ke pasar malam

Dandananya menor, lipstiknya mencolok
Bedaknya tebal sekali
Kontras dengan leher hitamnya
Wajahnya seperti tertutup tepung terigu

Kembali, seorang pria berlalu
Badanya tinggi besar
Bahunya kokoh
Menggendong anaknya

Dan aku, masih mencoba membaca
Apa yang coba dikatakan dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar